Jumat, 23 Januari 2026

Desa Itu Bernama Indonesia

 

Desa Itu Bernama Indonesia

Refleksi Hari Desa Nasional :

Mengokohkan Arah Pembangunan Desa

Hilman Susila (Koordinator Provinsi Jawa Barat)

 

Indonesia sering dikenal sebagai negeri kepulauan dengan ribuan pulau, ratusan suku bangsa, dan beragam budaya. Namun, jika kita menelusuri lebih dalam, denyut nadi Indonesia sejatinya berawal dari desa. Desa bukan sekadar wilayah administratif, melainkan fondasi utama kehidupan bangsa. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan, desa itu bernama Indonesia.

Di desa, nilai-nilai luhur bangsa tumbuh dan dijaga. Gotong royong, kebersamaan, musyawarah, dan kepedulian sosial masih hidup dalam praktik keseharian masyarakat desa. Ketika terdapat warga yang mengalami kesusahan, tangan-tangan lain terulur tanpa diminta. Ketika ada pekerjaan bersama, semua ikut ambil bagian. Nilai-nilai inilah yang menjadi identitas Indonesia sejak lama, jauh sebelum modernisasi mengubah wajah kota-kota besar.

Desa juga menjadi sumber ketahanan pangan dan ekonomi nasional. Sawah, ladang, kebun, dan laut yang dikelola masyarakat desa menyediakan kebutuhan pokok bagi jutaan penduduk. Petani, nelayan, dan peternak desa bekerja tanpa sorotan kamera, namun hasil jerih payah merekalah yang menopang kehidupan angsa. Indonesia yang kuat tidak mungkin berdiri tanpa desa yang berdaya.

Selain itu, desa adalah penjaga budaya dan tradisi. Bahasa daerah, kesenian, upacara adat, hingga kearifan lokal diwariskan dari generasi ke generasi di desa-desa. Di sanalah identitas Indonesia dirawat agar tidak tergerus zaman. Ketika budaya desa hilang, maka sebagian jati diri bangsa pun ikut memudar.

Oleh karena itu, bertepatan dengan Peringatan Hari Desa Nasional yang diselenggarakan pada tanggal 13-15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan semata, melainkan memiliki makna strategis dalam meneguhkan arah pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan sekaligus momentum refleksi untuk melihat sejauh mana desa desa di Indonesia telah benar-benar menjadi subjek utama pembangunan.

Keberadaan desa-desa di Indonesia dengan karakteristik yang sangat beragam, mulai dari desa agraris, pegunungan, pesisir, hingga desa penyangga kawasan perkotaan bahkan metropolitan menjadi kekuatan sekaligus tantangan tersendiri. Di satu sisi, desa-desa tersebut menyimpan potensi besar di sektor pertanian, pariwisata desa, ekonomi kreatif, dan UMKM. Di sisi lain, kesenjangan antarwilayah desa masih nyata, terutama antara desa-desa di wilayah perkotaan dan desa-desa di daerah pedalaman.  

Selain itu juga tidak dapat dipungkiri, bahwa desa juga masih memiliki kekurangan dan menghadapi berbagai tantangan seperti urbanisasi, keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan teknologi, keterbatasan sumber daya manusia, kondisi lingkungan, dan lain sebagainya yang sering membuat desa berada dalam ketertinggalan. Tentu hal ini menjadi permasalahan dan tantangan yang harus dipecahkan.

Namun demikian, seiring perjalanan, pembangunan desa terus memperlihatkan geliatnya. Program dana desa, pembangunan infrastruktur, penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), terbaru berkait pergerakan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, digitalisasi layanan desa, serta pengembangan desa wisata telah mendorong peningkatan ekonomi dan kualitas pelayanan publik di desa. Banyak desa mulai bertransformasi menjadi desa yang mandiri yang mampu mengelola potensi lokalnya secara profesional dan partisipatif dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat desa.

Sejalan dengan perjalanan pembangunan Desa nama Pendamping Desa (Tenaga Pendamping Profesional) juga tak luput dari sorotan dalam perannya melakukan pendampingan terhadap desa. Pendamping Desa, secara prinsip, berperan melakukan pengawalan terhadap sistem pembangunan desa yaitu rangkaian pendataan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan yang partisipatif, transparan, dan akuntabel, yang bertujuan meningkatkan kemandirian desa serta kesejahteraan masyarakat, dengan menjadikan desa sebagai subjek pembangunan Sosok Pendamping Desa yang strategis tersebut mengharusikan dirinya untuk terus menerus berupaya meningkatkan kapasitasnya dalam menjalankan tugas dan menghadapi problematika yang berkembang di desa.

Kondisi tersebut akan terus mengalami peningkatan positif ketika mendapat support konstruktif dari berbagai pihak. Andil Pemerintah Daerah, sektor swasta, Perguruan Tinggi, dan media dapat mengambil peran strategis dan proporsional dalam jaring kolaborasi yang mengarah pada berbagai upaya pembangunan desa, inovasi, penyelesaian masalah dan pengembangan potensi yang ada di desa. Senafas dengan nilai budaya bangsa, bersama-sama dan bekerja sama menggerakan kemampuan yang dimiliki untuk mendorong kemandirian desa.     

Karenanya, refleksi Hari Desa Nasional juga mengingatkan bahwa pembangunan desa bukan hanya pada pembangunan fisik semata. Pembangunan sumber daya manusia desa masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kualitas pendidikan, kapasitas aparatur desa, serta partisipasi generasi muda desa perlu terus diperkuat, karena tanpa sumber daya manusia yang unggul, pembangunan desa akan sulit berkelanjutan.

Membangun Indonesia sejatinya adalah membangun desa. Ketika desa diberi ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk berkembang, maka Indonesia akan tumbuh lebih adil dan merata. Desa bukan halaman belakang bangsa, melainkan beranda depan Indonesia. Dari desa, Indonesia bermula; oleh desa, Indonesia bertahan; dan bersama desa, Indonesia melangkah ke masa depan. Karena sesungguhnya, desa itu bernama Indonesia.

Senin, 10 November 2025

 

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDTYandri Susanto kampanyekan lumbung pangan desa dan desa adat saat menghadiri Festival Kampung Adat Cikondang, Minggu (9/11).

Mendes Yandri menyebut kampung adat yang terletak di Kampung Cikondang, Kelurahan Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, ini miliki pemandangan yang indah, dan sebagian wilayahnya berpotensi dijadikan Desa Wisata.

Dia memaparkan, Kemendes PDT saat ini fokus untuk sukseskan Asta Cita 6 Presiden Prabowo Subianto, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. Mendes menilai kesejahteraan itu dimulai dari desa, olehnya Kemendes mengajak sejumlah pihak untuk kolaborasi, salah satunya Lumbung Kesejahteraan Rakyat.

"Mari kita mulai Lumbung Pangan Desa di Indonesia dari Desa Adat Cikondang," kata Mendes Yandri dalam keterangannya.

Mendes Yandri menyebut Lumbung Pangan merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan dan dikembangkan lagi di desa-desa di Indonesia. Lumbung Pangan Desa ini masuk 12 Rencana Aksi Kemendes PDT yaitu Swasembada Pangan.

Mendes Yandri juga mengajak warga desa, utamanya Kampung Adat Cikondang untuk menyukseskan program-program Pemerintah yang masuk ke desa-desa seperti Koperasi Desa Merah Putih, Makan Bergizi Gratis (MBG), BUMDesa hingga Sekolah Rakyat.

Warga desa diminta berpartisipasi dalam menyiapkan bahan baku untuk program MBG seperti Telur, Beras hingga ikan. Hal ini bakal memberi efek ekonomi bagi warga desa.

"Jika desa jadi penyuplai bahan baku untuk MBG  akan membuat desa bangkit dari sisi ekonomi," 

Mendes Yandri berharap agar program-program Pemerintah yang ada didesa itu kemudian dikolaborasikan untuk me capai program Indonesia Emas 2045.

Mendes Yandri juga menyinggung perlu program Desa Bersih dari Narkoba (Bersinar) yang digalakkan oleh Kemendes PDT karena mengingat efek negatif dari Narkoba.

"Kita perlu melindungi Desa dari bahaya narkoba, olehnya program Desa Bersinar harus terus digaungkan," 

Mendes Yandri juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan Lumbung Kesejahteraan Rakyat. Saat yang bersamaan dirangkaikan peluncuran Sakola Budaya Sunda, Pusat Kesenian Buhun dan Desa Bersinar Jawa Barat.

Turut hadir dampingi Mendes Yandri, Sekjen Taufik Madjid, Dirjen PDP Tabrani, Dirjen PPDT Samsul Widodo, Kepala BPSDM Agustomi Masik, Direktur Sosial Budaya Desa dan Perdesaan Andrey Ikhsan Lubis dan Kapus Pemberdayaan Masyarakat Heri Sulesmono.

Hadir juga Forkompimda Kabupaten Bandung, Kepala Desa se-Kabupaten Bandung, dan Tenaga Pendamping Profesional.

 

Senin, 13 Oktober 2025

Mewujudkan Desa Cerdas

Peran Pendamping Desa Dalam Inovasi Transformasi Digital Desa/Zona Baca Smart di Kabupaten Bandung

Dunia digital mulai masuk ke pelosok-pelosok desa di Indonesia, membawa angin segar yang tidak hanya merubah cara berkomunikasi, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat desa. Hal ini semakin diperkuat dengan terbitnya Permendesa No. 22 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan juga Permendes No. 8 Tahun 2022 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2023 yang memberikan landasan hukum bagi pengembangan teknologi informasi di desa-desa seluruh Indonesia pada saat itu.

Kabupaten Bandung, yang terdiri dari 270 desa, menjadi salah satu daerah yang sangat serius dalam menyambut revolusi digital. Sejak awal, Kabupaten Bandung telah menunjukkan komitmen yang luar biasa dengan membentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang fokus pada penyebaran informasi digital di tingkat desa. KIM di Kabupaten Bandung tidak hanya sekadar menjadi penyambung informasi, tetapi juga menjembatani desa dengan dunia luar, sehingga masyarakat desa bisa mengakses informasi yang akurat dan relevan.

Melalui akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, bahkan YouTube, desa mulai menampilkan kegiatan-kegiatan yang ada di desa mereka. Masyarakat pun semakin terbiasa melihat, mendengarkan, dan berinteraksi dengan informasi yang mereka terima, mulai dari kegiatan pemerintahan hingga acara budaya yang ada di desa. Tidak hanya itu, tujuan utama dari program Desa Digital ini juga untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah dan perjuangan para pahlawan desa, mengenalkan mereka pada kisah-kisah heroik yang pernah terjadi di kampung halaman mereka.

Dengan berjalannya waktu, keinginan untuk mengembangkan desa lebih jauh ke ranah digital semakin kuat. Desa-desa di Kabupaten Bandung mulai menggagas sebuah terobosan baru: Perpustakaan Digital/ Zona Baca Smart. Melihat kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi terhadap media digital untuk hiburan dan edukasi, pemerintah desa berinisiatif untuk menyediakan akses buku digital yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja.

Bukan hanya untuk anak-anak sekolah, tetapi juga bagi masyarakat umum yang ingin menambah pengetahuan. Perpustakaan Digital ini menjadi sarana bagi masyarakat desa untuk lebih mudah mengakses bahan bacaan, tanpa harus pergi ke perpustakaan fisik yang mungkin jauh dari jangkauan mereka. Di setiap desa, Perpustakaan Digital ini semakin berkembang dan banyak digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan, dari pelajar SD hingga masyarakat dewasa.

Tentu saja, untuk memantau keberhasilan program ini, setiap operator desa bisa melacak penggunaan aplikasi Perpustakaan Digital. Mereka dapat memantau berapa banyak orang yang mengakses buku digital, buku apa saja yang sedang dibaca, serta berapa lama waktu yang dihabiskan setiap individu untuk membaca. Hal ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana masyarakat desa semakin "melek baca", sekaligus menunjukkan sejauh mana pengaruh dari Perpustakaan Digital dalam meningkatkan minat baca masyarakat.

Program ini telah menjadi batu loncatan bagi masyarakat untuk lebih mengenal dunia digital dan memanfaatkan teknologi informasi untuk berbagai keperluan positif. Desa yang dulunya mungkin hanya dikenal dengan kehidupan tradisionalnya, kini telah melangkah ke dunia digital, membuka banyak peluang baru, dan tentu saja, membawa harapan untuk masa depan yang lebih cerah.

Perpustakaan Digital yang disebut Zona Baca Smart ini merupakan platform digital yang ditempatkan pada lokasi tertentu yang dijadikan sebagai titik atau area dimana masyarakat dapat dengan mudah membaca berbagai macam koleksi buku-buku digital, video kegiatan wilayah maupun tokoh masyarakat setempat, radio, film, informasi berbagai macam produk dan kearifan local dengan cara memindai/ scan sebuah QR Code yang ditempatkan, tanpa memerlukan aplikasi.

Keunggulan dari zona smart ini cukup mudah diakses oleh siapa pun melalui gadget/HP Android/ ios, asalkan ada koneksi internet/ wifi serta berbasis WEB dan koordinat (QR Code) radius akses yang cukup luas, dan biaya/ costnya sangat jauh lebih murah dibandingkan dengan yang Convensional seperti Bangunan/ Gedung Perpustakaan.

Di Kabupaten Bandung, Desa Digital telah menjadi kisah sukses yang tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi juga membawa masyarakat menuju dunia yang lebih maju dengan informasi yang lebih mudah diakses. Dengan semakin berkembangnya zona smart, harapan besar masyarakat desa untuk memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi dan pengetahuan semakin menjadi kenyataan.

Keberhasilan ini tentunya adanya peran dari Pendamping desa dalam mengedukasi masyarakat tentang cara menggunakan aplikasi-aplikasi digital dengan bijak. Mereka memberikan pemahaman bahwa teknologi bukan hanya alat untuk hiburan semata seperti “mabar games”, bermedsos, belanja online, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan yang memperkaya wawasan. Melalui interaksi langsung dan pendekatan yang manusiawi, Tenaga Pendamping Profesional mampu membangun kepercayaan dan minat masyarakat desa untuk terlibat dalam dunia digital.

Dengan dukungan Tenaga Pendamping Profesional dari mulai TAPM Provinsi Jabar, TAPM Kabupaten Bandung, Pendamping Desa sampai Pendamping Lokal Desa Kabupaten Bandung, Desa Zona Baca Smart di Kabupaten Bandung bukan hanya sebuah konsep, melainkan kenyataan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Keberhasilan ini adalah hasil dari kolaborasi antara tenaga pendamping, pemerintah desa, dan masyarakat yang saling bekerja sama untuk menciptakan desa yang lebih cerdas, lebih terbuka terhadap kemajuan teknologi, dan lebih maju dalam literasi.

Transformasi digital yang dimulai dari sini telah membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, keberhasilan dalam mewujudkan desa digital bisa tercapai. Para pendamping desa di Kabupaten Bandung adalah pahlawan dalam cerita ini—mereka bukan hanya mendampingi, tetapi juga menginspirasi perubahan besar bagi masa depan desa yang lebih maju dan berdaya saing.


Desa Itu Bernama Indonesia

  Desa Itu Bernama Indonesia Refleksi Hari Desa Nasional : Mengokohkan Arah Pembangunan Desa Hilman Susila (Koordinator Provinsi Jawa ...